SELAMAT DATANG DI BLOG INNEcom Creative

Kamis, 17 Maret 2011

PENYEDIAAN AIR BERSIH DAN SANITASI DALAM KONDISI BENCANA

Bencana Alam adalah kejadian yang tentu jasa tidak kita kehendaki untuk terjadi, namun kejadian ini dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, sebagai contoh kejadian Gempa Bumi yang disertai Tsunami di Jepang yang baru saja terjadi (Maret 2011)

Selain menimbulkan korban jiwa , rusaknya berbagai infrastruktur, bencana juga menghasilkan Pengungsi sebagai calon korban kedua, hal ini disebabkan karena dalam keadaan bencana akses terhadap unsur unsur penopang kehidupan (makanan, air bersih) sangatlah terbatas bahkan hilang sama sekali, selain itu keadaan lingkungan sanitasi yang buruk dan serba terbatas juga merupakan ancaman bagi kelangsungan kelangsungan hidup karena dapat menimbulkan berbagai penyakit.

Pada tahap awal dari suatu bencana orang yang terkena bencana pada umumnya lebih mudah menjadi sakit dan meninggal, karena penyakit pada umumnya berhubungan dengan sanitasi yang tidak memadai, kekurangan penyediaan air, dan buruknya kebersihan.

Penyakit-penyakit yang paling banyak terjadi adalah penyakit yang ditularkan melaui tinja kemulut seperti penyakit diare, dan penyakit yang disebabkan oleh vektor (hama pembawa penyakit) yang berhubungan dengan sampah dan air.

Sasaran utama kegiatan Penyediaan air bersih dan sanitasi pada keadaan bencana adalah untuk mengurangi penularan penyakit-penyakit tinja ke mulut dan mengurangi penjangkitan oleh vektor dengan melaksanakan penyuluhan peraktek kebersihan yang baik, penyediaan air minum yang aman dan pengurangan kesehatan lingkungan dengan mengusahakan suatu kondisi yang memungkinkan orang-orang untuk hidup dengan kesehatan, martabat, kenyamanan, dan kemanan yang memadai.

Mengetahui kegiatan apa yang harus dilakukan pelayanan air dan sanitasi fase darurat
Pada fase bencana hal yang sering kita temukan seperti banyak memakan korban dengan banyak temukan mayat-mayat dan terjadinya kerusakan infrastruktur, salah kerusakan yang ditimbulkan adalah kerusakan fasilitas air dan sanitasi seperti : jaringan PDAM rusak, sumur-sumur terkubur reruntuhan atau lumpur, jalur akses sumber air terputus, banyak puing-puing, sampah-sampah serta kondisi drainase yang rusak sehingga banyak air tergenang, didukung perilaku kesehatan yang buruk dari masyarakat korban. Akibat dari hal tersebut masyarakat menjadi rentan terhadap penyakit.

Apa yang harus dilakukan dalam kegiatan Air dan Sanitasi pada fase Bencana?
Untuk mengurangi resiko dari bencana yang ditimbulkan, hal yang dilakukan dalam kegiatan air dan sanitasi adalah :

1. Pasokan/penyediaan air bersih
Dalam kondisi bencana pasokan/penyediaan air sangat penting, hal ini dikarenakan merupakan kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi untuk menjaga kelangsungan hidup, banyak kasus ditemukan ketika bencana sering terjadi kekurangan air dikarenakan akses yang terputus sehingga kuantitas tidak memadai ataupun ada kualitas airnya tidak memenuhi syarat kesehatan, akibat dari hal tersebut masyarakat menjadi rentan terhadap penyakit.

Untuk itu didalam pasokan/penyediaan air bersih kita harus memperhatikan :
Kuantitas air (Jumlah air) :
Jumlah air dapat diperoleh jika kita mengetahui jenis sumber air.
Jenis Sumber Air
- air tanah : Sumur, Mata air
- air permukaan :kolam, sungai, telaga
- air hujan

Kualitas Air
Selain dari kuantitas yang cukup, juga kita harus memperhatikan kualitasnya, sehingga air yang dikonsumsi tidak menimbulkan resiko terhadap kesehatan. Yang perlu diperhatikan untuk bisa memenuhi kualitas air adalah :
Pemeriksaan kualitas air
Ada tiga cara dalam pemeriksaan kualitas air :
a. Pemeriksaan secara fisik (warna, rasa, dan bau)
b. Pemeriksaan secara biologi ( pemeriksaan bakteri pathogen ; E-Coli, yang disebabkan oleh tercemarnya air oleh kotoran tinja)
c. Pemeriksaan secara kimia (chlor, Ph,Ni,Na,Fe, dan lainnya)

Sarana dan piranti air
Masyarakat mempunyai sarana dan piranti yang mencukupi untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menggunakan air untuk minum, memasakan, dan kebersihan pribadi, dan memastikan air minum tetap aman sampai pada waktu dikonsumsi. Pada bencana hal pertama dilakukan adalah pembagian jeriken

2. Pembuangan tinja
Pembuangan tinja yang aman dapat mengurangi resiko penyakit yang ditimbulkan baik langsung atau tidak langsung, penyediaan saran yang tepat adalah satu dari beberapa respon kedaruratan yang paling penting untuk menjamin martabat, kemanan, kesehatan, dan kesejahteraan penduduk.

Didalam pembuangan tinja, hal yang harus diperhatikan adalah :
Jumlah dan akses ke jamban
Masyarakat berhak mendapat jumlah jamban yang memadai, cukup dekat dengan tempat tinggal, untuk mengkinkan akses yang cepat, aman, dan pantas baik siang maupun malam.

Didalam membangun jamban, yang harus diperhatikan adalah :
- Pemisahan jamban berdasarkan jenis kelamin
- Tempat buang air besar
Dalam kondisi bencana kadang tindakan dalam membuat jamban harus segara dilakukan, untuk itu jamban lubang (pit Latrines) adalah alternatif yang bisa dilakukan.
- Pemeliharaan
Dilokasi pengungsian jamban yang dibangun, tentunya merupakan jamban umum, yang harus diperhatikan memberikan kesadaran dan membuat pertemuan dengan sesama pengungsi untuk memnentukan bentuk pemeliharaan jamban, sebaiknya didalam jamban umum disediakan sabun, pembalut, dan jarak jamban.

3. Pengendalian vektor
Vektor adalah suatu agent/penyebab pembawa penyakit, dan salah satu penyakit yang ditimbulkan disituasi bencana adalah melalui vektor yang tidak terkontrol.
Contoh Vektor/hama dan Jenis penyakit yang ditimbulkan :

1. Nyamuk, biasanya hidup dan berkembang biak di tempat yang banyak terdapat genangan air, merupakan vektor penyakit Malaria, Demam Berdarah
2. Lalat/ kecoak, biasanya hidup ditempat yang banyak menyediakan makan dan berbau (Tempat sampah), merupakan vektor penyakit perut (diare dan sejenisnya)
3. Kutu/ Mites, biasanya terdapat di Handuk, air yang kotor, tempat tidur yang kotor....ada juga sih yang hidup di tubuh manusia, penyebab Scabies
4. Tikus, biasanya hidup di tempat Sanpah, merupakan vektor penyakit Salmonella, leptospirosis.

Semua penduduk memahami yang beresiko dari penyakit yang ditularkan melalui vektor memahami cara penularan dan metode yang mungkin digunakan untuk mencegahnya.

Diagram F : adalah suatu cara pencegahan penyakit diare
Fluids = Cairan
Fields = Lapangan
Flies = Lalat
Finger = Jari tangan
Food = Makanan
Feces = Tinja
















4. Manajemen Sampah
Pada saat bencana sering dijumpai kondisi sanitasi yang buruk, seperti : sering ditemukannya puing-puing, sampah-sampah dan jenis limbah lainnya yang berserakan akibat bencana yang ditimbulkan. Hal tersebut akan menjadi masalah kesehatan.

Pengertian Sampah :
Sampah adalah semua benda yang sudah tidak terpakai lagi baik yang berasal dari rumah maupun, proses industri, sampah rumah sakit.

Sampah digolongkan menjadi dua :
- Sisa makanan yang mudah membusuk (Organik)
- Sisa barang yang yidak dapat membusuk (an-Organik)

Hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan sampah :
◙ Pengumpulan :
- Pembuatan Tempat Sampah (Tong Sampah, lubang sampah)
- Pembuatan TPS (Tempat Pembuang Sampah Sementara)
- Pembuatan TPA (Tempat Pembuatan Sampah Akhir)
◙ Pengangkutan :
- Gerobak
- Mobil Sampah
◙ Pengolahan :
- Dibuang pada tahan galian/tempat rendah
- Dikubur pada tanha galian
- Dibakar

Pengetahuan Jenis dan Sumber Sampah










Pengetahuan JenisSampah dan Cara Pengelolaan :






5. Drainase
Pada situasi bencana, salah satu masalah bidang sanitasi adalah pada Drainase/saluran air yang rusak atau tidak diperhatikan, hal ini bisa dilihat dari tercemarnya air permukaan di lokasi pengungsi yang berasal dari limbah rumah tangga atau titik-titik distribusi air, kebocoran jamban, got, air hujan ait banjir.

Pengertian Drainase
Drainase adalah saluran air, tujuannya mengalirkan air dengan membuat saluran untuk menghindari genangan yang merupakan sarang pekembangbiakan veltor/pembawa penyakit.

Perlunya drainase pada kondisi bencana
Supaya tidak mencemari air permukaan : sumur, sungai atau danau
o Tidak menjadi perkembangbiakan nyamuk, lalat, kecoa, dan lipas
o Tidak mengganggu pemandangan

Cara pemeliharaan drainase
o Periksa lubang saluran. Bila ada kotoran yang tersangkut, ambil dan buang ketempat sampah
o Sesekali siram dengan air agar terjadi penyumbatan oleh tanah yang terbawa air

6. Penyuluhan Kesehatan
Tujuan dari penyuluhan adalah untuk mengajak masyarakat dan memberikan kesadara dalam pentingnya kesehatan pribadi dan kesehatan lingkungan. Perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kebersihan mencakup: penggunaan/ pemeliharaan jamban/ kebiasaan mencuci tangan dengan sabun/ pengumpulan dan penyimpanan air yang tidak bersih/ memasak makanan yang tidak bersih.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam menyuluh:
◙ Saling berbagi informasi dan pengetahuan
◙ Penggerakan masyarakat (menggunakan pola partisipatif)
◙ Penyediaan bahan dan saran yang penting.

Mengetahui jenis-jenis penyakit yang berhubungan dengan air dan sanitasi
Penyakit yang disebabkan oleh Air dan Sanitasi :
• Kolera, Tipus, Diare
• Cacing Tambang
• Cacingan, scabies (penyakit kulit)
Malaria

















Berikut ini Gambar Jenis dan Konstruksi Jamban yang dapat digunakan/ dibangun




Keterangan :
• Jamban Siram (a)
• Jamban Siram dengan dua lubang (b)
• Jamban Cubluk (c)
• Jamban Septic tanks (Jamban ViP)(d)





Gambar Jamban Bergerak (Maksudnya jamban yang dapat dipindah-pindahkan)



















Gambar Mobil Penyedot Tinja

















Mobil ini yang dapat beroperasi untuk menyedot e..e...di jamban2 yang ada di lokasi bencana, maklum dah....kan digunakan banyak orang. jadi pastinya cepat penuh..wkwkwk
Cukup dah sampe disini dulu yah...Thank's buat waktu yang telah di sisihkan buat ngebaca posting gua, By. Herling AJP.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer